Sudah Masyarakat Indonesia Terdidik ?

2 mei 2018 adalah hari pendidikan nasional yang kukuhkan oleh pemerintah untuk memperingati kelahiran Ki Hajar Dewantara beliau adalah pelopor pendidikan Indonesia sebagai pendiri taman siswa. Saat itu beliau memperjuangkan agar masyarakat Indonesia memiliki hak yang sama untuk mengeyam pendidikan bukan hanya anak-anak belanda dan orang kaya saja. Ki Hajar Dewantara wafat pada 26 april 1959 dan untuk menghormati beliau maka tanggal kelahirannya dijadikan sebagai hari pendidikan Indonesia.

Di tanggal 2 mei 2018 ini apakah bangsa ini sudah terdidik ? sesuai amanat UU 45 yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa yang telah di cetuskan oleh para pendahulu kita. Dilansir dari CNN Indonesia Data UNICEF tahun 2016 sebanyak 2,5 juta anak Indonesia tidak dapat menikmati pendidikan lanjutan yakni sebanyak 600 ribu anak usia sekolah dasar (SD) dan 1,9 juta anak usia Sekolah Menengah Pertama (SMP). Begitupula data statistik yang dikeluarkan oleh BPS, bahwa di tingkat provinsi dan kabupaten menunjukkan terdapat kelompok anak-anak tertentu yang terkena dampak paling rentan yang sebagian besar berasal dari keluarga miskin sehingga tidak mampu melanjutkan pendidikan ke jenjang selanjutnya.

Masih dilansir oleh CNN Indonesia bahwa penyebab putus sekolah masyarakat Indonesia adalah dikarenakan faktor ekonomi. Sebanyak 47,3 persen responden menjawab tidak bersekolah lagi karena masalah biaya, kemudian 31 persen karena ingin membantu orang tua dengan bekerja, serta 9,4 persen karena ingin melanjutkan pendidikan nonformal seperti pesantren atau mengambil kursus keterampilan lainnya. Mereka yang tidak dapat melanjutkan sekolah ini sebagian besar berijazah terakhir sekolah dasar (42,1 persen) maupun tidak memiliki ijazah (30,7 persen). Meski demikian, rencana untuk menyekolahkan anak ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi ternyata cukup besar, yakni 93,9 persen. Hanya 6,1 persen yan menyatakan tidak memiliki rencana untuk itu.

Di moment hari pendidikan nasional ini kita sebagai masyarakat dari sebuah bangsa yang berdaulat tentu saja memiliki tanggungjawab minimal terhadap keluarga kita sendiri. Tidaklah bijak jika kita terus menerus juga menyalahkan pemerintah, kita yakin pemerintah konsen terhadap mutu pendidikan dan pengentasan kemiskinan dengan berbagai programnya, namun kita sebagai masyarakat jangan pernah diam mari bergerak mengajak, menjadi pelopor pendidikan minimal pada lingkungan kita sendiri.

sebagai bahan acuan saja tahun 2016 UNICEF mencatat tahun 2016 sebanyak 2,5 juta anak Indonesia tidak dapat menikmati pendidikan lanjutan yakni sebanyak 600 ribu anak usia sekolah dasar (SD) dan 1,9 juta anak usia Sekolah Menengah Pertama (SMP). Benarkah ini karena faktor ekonomi atau sistem yang tidak berpihak pada mereka?

Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan Universitas Gadjah Mada, mengumumkan hasil penelitian Hasil Bantuan Siswa Miskin Endline di Sumatera Utara, Jawa Barat, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi Selatan. Ada temuan menarik.

Sebanyak 47,3 persen responden menjawab tidak bersekolah lagi karena masalah biaya, kemudian 31 persen karena ingin membantu orang tua dengan bekerja, serta 9,4 persen karena ingin melanjutkan pendidikan nonformal seperti pesantren atau mengambil kursus keterampilan lainnya.

Mereka yang tidak dapat melanjutkan sekolah ini sebagian besar berijazah terakhir sekolah dasar (42,1 persen) maupun tidak memiliki ijazah (30,7 persen). Meski demikian, rencana untuk menyekolahkan anak ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi ternyata cukup besar, yakni 93,9 persen. Hanya 6,1 persen yan menyatakan tidak memiliki rencana untuk itu.
Sampaikan dan yakinkan kepada anggota keluarga bahwa pendidikan adalah sangat penting, bahkan Alloh SWT berjanji akan mengangkat derajat orang-orang yang berilmu. Bahkan secara jelas Alloh SWT memerintahkan umatnya untuk membaca! ya membaca, belajar, karena dengan belajar kita akan berilmu, dengan berilmu kita akan selamat. Apakah bangsa ini sudah terdidik ? jawabannya ada pada diri kita masing-masing.

Opini Yono Maulana

0 komentar