Banyak Ritel Berguguran Penomena Apakah Ini ?

Era Disruption adalah era Inovasi anak jaman now! pergerakan mereka para inovator yang memiliki kreatifitas tingkat tinggi telah mampu merubah perilaku masyarakat umum, dari yang sebelumnya mereka lebih senang datang ke departement store sekarang mereka lebih asik dikamar atau disebuah ruang kongkow sembari membicarakan produk-produk dan isu-isu terbaru melalui gadget mereka. Mereka bisa melakukan transaksi tanpa dibatasi oleh jarak, fasilitas dan waktu, mereka bebas memilih produk yang mereka cari dari belahan negeri hanya dengan satu tindakan klik and save, done! barang sampe rumah!
Perubahan perilaku ini tentu saja karena pengaruh eksternal yaitu kehadiran teknologi yang mampu membantu memudahkan dalam berbagai kebutuhan. Akibat dari itu banyak ritel di Indonesia yang tumbang satu demi satu berguguran, mati tak berdaya akibat perubahan perilaku belanja masyarakat terutama di generasi muda. Anak muda sekarang sudah berkiblat pada trend dunia, bukan lagi nasional apalagi lokal, mengapa demikian ? mereka begitu mudahnya mengkomparasi satu dengan lainnya dengan menggunakan teknologi informasi, sedikit saja ada perbedaan dipastikan mereka akan pergi meninggalkan dan mencari yang sesuai dengan yang mereka inginkan.

seperti yang dilansir Kompas Online pada 22 november 2017 : Matahari Tutup Gerai Lagi, Apa Penyebab Ritel Modern Berguguran? Paling tidak ada 2 kategori yang mengakibatkan ritel modern berguguran diantaranya ;
1. karena ketatnya persaingan antar ritel di kota-kota besar, kemudian muncul E-Commerce  walaupun di Indonesia masih 1 persen, namun pada fenomena megacity seperti Jakarta sudah diatas 20 persen.
2. dikarenakan daya dukung komunitas berubah seperti kawasan penduduk kini berubah menjadi kawasan bisnis, sehingga kondisi dan situasi berubah, suasan jalan menjadi ramai, macet, harga tanah disekitar tersebut menjadi mahal, akibatnya yang semula untuk kawasan penduduk berumah menjadi kawasan bisnis, komunitas diwilayah itu secara berlahan berpindah karena sudah tidak ada kenyamanan lagi.

Beberapa contoh ritel yang mulai dan sudah berguguran diantaranya adalah 7-Eleven, PT. Matahari Department Store, Lotus Department Store, dan Debenhams yang ditutup oleh PT. Mitra Adi Perkasa, Tbk pada bulan Oktober 2017.

Selamat Datang E-Commerce
walaupun saat ini masih terbilang masih kecil namun ini perlu diwaspadai seperti yang dijelaskan untuk kawasan urban seperti megacity Jakarta penggunanya sudah mencapai lebih dari 20 persen. bukan tidak mungkin bahkan sangat mungkin daerah-daerah berkembang seperti Cirebon akan mengalami hal yang sama. Jika dilihat bulan bulan sebelumnya terjadi aksi unjuk rasa akibat adanya Ojek Online ini merupakan pertanda bahwa masyarakat Cirebon sudah termasuk masyarakat pengguna teknologi, belum lagi ada pesan antar makanan online, kemudian informasi-informasi tentang dan sekitar Ciayumajakuning terus tumbuh seperti jamur mereka berusaha hadir meramaikan dunia informasi digital seperti portal berita, market place, blog dan berbagai mikro site media sosial lainnya.

kehadiran Alibaba.com, Lazada.com, Bukalapak, Aibnb, OpenTable, Kitabisa, TokoPedia, Etsy, HijUp, Gojek, Grab, Uber, Ebay, Boatbound, IndonesiaX, Bitcoin, Youtube, Localguides, dan Fugo asli Cirebon yang siap mengantar makan siang anda, semua itu adalah tools untuk memudahkan setiap orang dan pastinya akan banyak yang mulai merubah caranya.

E-Commerce Bukan Momok Menakutkan
Mungkin masih banyak yang berfikir kehadiran ritel online dan jasa online merupakan momok menakutkan, tapi percayalah kemudahan yang dihadirkan oleh perkembangan di era digital ini bukanlah sebuah momok yang menakutkan. Kita hanya tinggal memposisikan dan sedikit mengubah menyelaraskan kondisi saat ini.

Dari sisi produsen atau pemilik ritel konvensional, sudah saatnya berdiskusi dengan para manager
muda yang mewakili generasi saat ini yang memiliki kreatifitas dan inovasi, kemudian lahirkanlah sebuah terobosan-terobosan baru tentunya dengan bauran teknologi informasi, cobalah untuk menghilangkan kata TIDAK BISA, TIDAK BOLEH, hal tersebut biasanya saat ide di deliver akan berbernturan dengan rule atau SOP perusahaan, tidak ada salahnya juga coba meninjau kembali SOP yang berlaku apakah sudah saatnya ada perubahan. Dengan demikian diharapkan pemilik ritel konvensional akan lebih percaya diri untuk tetap survive bahkan sangat mungkin tetap sebagai leader market.

Dari sisi masyarakat tentu saja kehadiran era digital ini bukan sebuah momok melainkan sebuah dunia baru yang mengasikan, menyenangkan, memberikan kemudahan dan kecepatan. Kebijakan dalam hal belanja online juga tetap harus dijaga, berbelanja melalui e-commerce bukan berarti tanpa resiko, dunia online sebetulnya memiliki tingkat resiko yang lebih tinggi dibandingkan manual atau konvensional, kejadian masyarakat yang tertipu atau kesalahan transaksi jual beli sering terjadi, itu akibat dari kurangnya pengetahuan memanfaatkan teknologi terutama pada proses dan kebijakan yang ada pada masing-masing e-commerce. Belum lagi beberapa oknum yang memang memanfaatkan momen  ini sebagai kegiatan kejahatan mereka.

Terlepas dari itu semua, siap tidak siap kita harus siap memasuki era digital yaitu era disruption dimana setiap individu bebas membuat kreasi dan inovasi, keberadaan sesuatu yang baru janganlah dibuat sebagai ancaman melainkan seharusnya menjadi peluang, peluang bagaimana kita bisa masuk, menggunakan dan memenangkan kompetisi yang lebih luas, lebih liar dan tidak terkontrol, siap dan mampu mengadopsi bahkan menciptakan sesuatu yang baru untuk kemaslahatan sekitar, nasional bahkan global.

artikel sudah dipublikasi di Radar Cirebon


0 komentar