WARGA JAKARTA YANG TUA DIJALAN

Jakarta, KOMPAS.com - Jauhnya sebuah tempat kini tak lagi diukur berdasarkan jarak hitungan kilometer (km), tetapi lamanya waktu yang dihabiskan dalam perjalanan.
Hal tersebut kerap dirasakan pekerja yang tinggal di Jakarta. Siapa sangka, meskipun perjalanan masih di ibu kota ternyata terasa "lebih jauh" dibandingkan perjalanan antar-kota.
“Patokan jauh-dekatnya rumah (dari kantor) bukan lagi dari kilometer, tapi waktu tempuh,” ujar Ketua Umum Real Estate Indonesia (REI) Soelaeman Soewaminata ata akrab disapa Eman saat berkunjung ke redaksi Kompas.com di Palmerah Selatan, Jumat (25/8/2017).
Kompas.com sempat melakukan eksperimen kecil. Perjalanan dilakukan dari kantor di Palmerah, Jakarta Pusat, menuju Cililitan, Jakarta Timur, dengan menggunakan bus Transjakarta koridor IX (Pinangranti-Pluit)—yang digadang-gadang sebagai solusi mengatasi kemacetan di Jakarta.
Perjalanan itu memakan waktu sekitar dua jam pada Jumat (25/8/2017) sore. Padahal, kedua wilayah masih berada di Jakarta. Jaraknya hanya terpaut 16 km.
Kondisi itu bahkan sudah didukung dengan jalur Transjakarta yang sudah steril dari kendaraan lainnya. Sayangnya, ada beberapa hal yang tak bisa dihindari sehingga bus tak terhindarkan dari macet.
Misalnya, jalur harus bersinggungan dengan ruas jalan biasa menuju gerbang tol dalam kota. Di jalur tersebut, ada Gerbang Tol Semanggi dan Gerbang Tol Kuningan yang harus dilewati bersama dengan kendaraan lain.
Belum lagi ketika melewati perempatan Kuningan yang sedang dibangun underpass Kuningan mengarah ke Tendean serta melewati pembangunan flyover Pancoran. Macet benar-benar tak bisa dihindari.
Suasana pembangunan proyek fly over Pancoran, Jakarta Selatan, Selasa (11/4/2017) sore. Menjelang jam pulang kerja, kemacetan semakin terasa sebagai dampak dari pengerjaan fly over Pancoran.
Suasana pembangunan proyek fly over Pancoran, Jakarta Selatan, Selasa (11/4/2017) sore. Menjelang jam pulang kerja, kemacetan semakin terasa sebagai dampak dari pengerjaan fly over Pancoran.(KOMPAS.com / ANDRI DONNAL PUTERA)
Eksperimen lainnya dilakukan dari kantor Palmerah menuju BSD, Serpong, yang jarak tempuhnya 28 km. Transportasi publik yang biasa dipakai adalah kereta Commuter Line (KRL).
Ternyata waktu tempuh hanya sekitar 30 menit untuk melewati kurang lebih 5 stasiun. Perjalanan tak perlu bertemu dengan macet. Risiko terburuknya, kalau KRL sedang mengalami gangguan, ya bisa-bisa sampai ke BSD malam hari untuk perjalanan yang dimulai dari sore.
(Baca juga: Mencari Obat Mujarab untuk Jakarta yang "Sakit")
Bagaimana pun, kesemrawutan ibu kota memang merupakan hal yang menjengkelkan. Kepadatan penduduk dan tingginya aktivitas ekonomi di Jakarta membuat kota ini menjadi semakin sesak. Terlebih lagi, Jakarta merupakan pusat pemerintahan. Maka tak heran, jika ada ungkapan "tua di jalan" bagi pekerja di Jakarta.
Kota masa depan
Meski demikian, Jakarta kadung jadi magnet bagi warganya, pun bagi pendatang. Apalagi, sebagai sebuah kota, Jakarta dianggap sudah dewasa karena sudah berusia hampir 500 tahun.
“Kedewasaan dan pertumbuhan Jakarta akhirnya membuat kota-kota di sekitarnya tumbuh mengikuti pertumbuhan penduduk Jakarta yang semakin tinggi,” papar Eman.
Melihat kenyataan tersebut, maka wajar jika pekerja di Jakarta akhirnya memilih tinggal di daerah penyangga yang memiliki akses transportasi yang lebih mudah dan cepat ketika menuju kota “ladang ekonomi” bernama Jakarta.
(Baca juga: Berpikir Lari dari "Neraka" Jakarta)
Meski demikian, mereka membutuhkan hunian yang tak sekadar memberikan akses transportasi nyaman ke pusat kota, tapi juga kota dengan manajemen baik. Konsepnya,  smart city.
Adanya konsep itu menjadi bekal penting untuk mewujudkan kota masa depan atau future city.
Ilustrasi smart city sebagai pengaplikasian internet of things.
Ilustrasi smart city sebagai pengaplikasian internet of things.(Thinkstock)
Dalam Konsep Kebijakan dan Strategi Nasional Pembangunan Perkotaan 2015-2045 yang disusun Kementerian Perencanaan Pembangunan/Bappenas, disebutkan bahwa kota masa depan yang dicita-citakan adalah kota yang layak dan aman, kota hijau yang berketahanan iklim dan bencana, serta kota cerdas yang berdaya saing dan berbasis teknologi.
Tak hanya itu, kota masa depan juga harus mampu membangun identitas perkotaan Indonesia berbasis karakter fisik, memiliki keunggulan ekonomi dan budaya lokal, serta membangun keterkaitan dan manfaat antarkota dan desa-kota dalam sistem Perkotaan Nasional berbasis kewilayahan.
Intinya, sebuah future city harus memiliki paket lengkap. Manajemennya harus baik dalam segala bidang sehingga dapat mendukung operasional warganya sekaligus memberikan rasa nyaman bagi penghuninya.
Sebuah kota pintar tak hanya terlihat pada pengembangan secara fisik. Melainkan juga bagaimana kota tersebut dapat menjadi tempat yang dapat mengakomodasi semua kebutuhan warganya.
Sebuah kota pintar tak hanya terlihat pada pengembangan secara fisik. Melainkan juga bagaimana kota tersebut dapat menjadi tempat yang dapat mengakomodasi semua kebutuhan warganya.(fastcoexist.com)
Untuk mempercepat perwujudan kota masa depan itu, Real Estate Indonesia (REI) menyelenggarakan Indonesia Future City (IFC) & REI Mega Expo 2017 pada 14-24 September 2017 di ICE BSD Tangerang.
Gelaran akbar yang juga bekerja sama dengan Dyandra Promosindo—anak usaha Kompas Gramedia dan Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI)—itu, terdiri atas empat kegiatan utama, yaitu pameran, konferensi, business meet up, dan visitor experience (art and culinary festival).
Adapun agenda konferensi terdiri dari Rapat Kerja Nasional (Rakernas) REI pada 14 September 2017, Rapat Kerja Teknis (Rakernis) APEKSI pada 15 September 2017, Seminar Smartcity (tiga hari rangkaian seminar dengan 60 pembicara), Kongres Asosiasi Prakarsa Indonesia Cerdas (APIC), C-Gen Summit, serta Kongres International Conference on Information Systems Security (ICISS).
Indonesia Future City & REI Mega Expo 2017 diharapkan menjadi event dua tahunan yang berkesinambungan sehingga benar-benar bisa menjadi wadah bagi seluruh pemangku kepentingan, menuju masa depan Indonesia yang aman-nyaman, ramah lingkungan, dan berdaya saing secara berkelanjutan.
Dengan langkah itu, harapannya konsep future city akan terwujud sehingga tak akan ada lagi pekerja yang merasa “tua di jalan”.

0 komentar