Tahun ini menjadi salah satu tahun pembelajaran yang cukup berat bagi saya. Sebagai seorang pembelajar yang sedang menempuh pendidikan S3, ada begitu banyak proses yang harus dilalui: penelitian yang terus berjalan, penulisan jurnal internasional yang seolah tidak pernah selesai, hingga berbagai persyaratan konferensi internasional yang harus dipenuhi.
Namun, tulisan ini bukanlah keluh kesah. Ini hanyalah sebuah napak tilas singkat; sebuah cara sederhana untuk mengingat kembali perjalanan, sekaligus menyemangati diri sendiri bahwa setiap langkah yang terasa berat ternyata mampu dilalui, sedikit demi sedikit, dengan keyakinan dan kesungguhan.
Sebagai anak kampung yang lahir dengan segala keterbatasan, saya menyadari bahwa perjalanan ini tidak pernah mudah. Banyak kekurangan yang harus saya terima, banyak rasa tidak percaya diri yang harus saya lawan, dan banyak tantangan yang harus saya hadapi. Tetapi justru dari keterbatasan itulah saya belajar bahwa mimpi tidak selalu lahir dari keadaan yang sempurna. Kadang, mimpi tumbuh dari ruang yang sempit, dari keadaan yang sulit, dan dari hati yang terus dipaksa untuk kuat.
Mengikuti konferensi internasional menjadi salah satu pilihan sekaligus syarat dalam perjalanan akademik ini. Saya bersyukur karena mendapatkan bantuan dan dukungan melalui Beasiswa Pendidikan Indonesia yang diperuntukkan bagi para pengajar dan dosen. Konferensi pertama saya ikuti di Thailand. Dari sana, begitu banyak pengalaman, pelajaran, dan keberanian baru yang saya bawa pulang.
Pada kesempatan berikutnya, saya kembali mencoba mengikuti konferensi internasional. Kali ini, tujuan saya adalah Osaka, Jepang.
Ada satu peristiwa yang cukup mengagetkan. Melalui email, panitia penyelenggara tiba-tiba meminta saya untuk menjadi Chairman pada salah satu sesi. Jujur, saya gugup. Saya sadar bahwa bahasa keseharian saya bukan bahasa Inggris. Rasa tidak percaya diri pun muncul. Ada ketakutan, ada keraguan, dan ada pertanyaan dalam hati: mampukah saya menjalankan amanah ini?
Namun, saya bersyukur memiliki sahabat-sahabat yang begitu peduli. Mereka terus memberikan semangat, menguatkan, dan meyakinkan saya bahwa tugas ini bisa saya tuntaskan. Dari mereka saya belajar bahwa dalam perjalanan yang berat, dukungan kecil dari orang-orang baik dapat menjadi tenaga besar untuk melangkah.
Akhirnya, dengan usaha, keberanian, dan kepasrahan kepada Tuhan, saya memberanikan diri. Bismillah.
Setelah melalui perjalanan panjang, dengan rute transit yang cukup melelahkan—maklum, perjalanan perjuangan sering kali harus memilih yang paling terjangkau—akhirnya saya tiba di Osaka. Sampailah pada hari ketika peran itu harus saya jalankan. Dengan segala keterbatasan yang saya miliki, saya mencoba memberikan yang terbaik. Alhamdulillah, semua dapat dilalui dan dituntaskan tepat waktu.
Jujur, saya tidak pernah membayangkan sebelumnya akan berada pada titik ini. Mendapatkan kepercayaan seperti ini terasa berat, tetapi sekaligus menjadi pengalaman yang sangat membanggakan. Saya sadar, tidak semua orang mendapatkan kesempatan yang sama. Karena itu, saya ingin menjalaninya dengan penuh rasa syukur.
Terima kasih LPDP BPI. Terima kasih kepada Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pendidikan Indonesia. Melalui dukungan ini, saya—seorang anak kampung yang sejak kecil belajar berjuang dengan segala keterbatasan—akhirnya dapat menginjakkan kaki di Jepang; sebuah negara maju yang dikenal dengan kedisiplinan, kebersihan, tanggung jawab, dan budaya belajar yang kuat.
Semoga apa yang saya jalani hari ini dapat menjadi inspirasi bagi anak-anak saya. Semoga mereka melihat bahwa pendidikan adalah jalan panjang yang layak diperjuangkan. Saya ingin mereka memahami bahwa belajar bukan hanya kewajiban saat muda, bukan pula terbatas oleh usia. Belajar adalah tanggung jawab manusia sepanjang hidup, karena Tuhan menugaskan manusia untuk terus mencari ilmu, memperbaiki diri, dan memberi manfaat.
Terima kasih Tuhan, atas berkah yang tak henti-hentinya Engkau curahkan. Terima kasih telah mendekapku dengan kasih sayang-Mu, bahkan pada saat aku sering merasa kecil, ragu, dan tidak mampu. Nikmat-Mu begitu besar. Pertolongan-Mu begitu nyata. Tak mungkin, dan tak akan pernah mampu, aku mendustakannya.
Medio, Osaka, Juli 2026




Post a Comment